tugas penkom 3_I24110060

computer-parts-hardware

Keyboard
a.Repeat delay adalah jeda dari tekanan huruf pertama ke tekanan huruf kedua.
b.Repeat rate adalah mirip dengan Repeat delay namun lebih mengatur kecepatan pada pengulangan huruf.
c.Cursor blink rate adalah mengatur kedipan pada kursor.
d.Devices : standar PS/2 keyboard dengan type keyboard menunjukan informasi tentang tipe keyboard yang berhubungan ke PC.

Mouse
1.Button
a.Button configuration Untuk mengatur fungsi pada mouse. Jika kita mengklik righ-handed biasanya digunakan untuk orang kidal, untuk merubah fungsinya. Klik kiri akan berfungsi sebagai klik kanan kemudian sebaliknya.
b.Double click speed Untuk mengatur kecepatan saat membuka folder dengan mengklik dua kali.
c.Click lock : turn on click lock Memungkinkan untuk mendrag file tanpa harus menahan cursornya, dengan mengklik dua kali saja.

2.Pointers
a.Window aero (system scheme) Berfungsi untuk mengbah jenis bentuk cursor yang akan digunakan.
b.Browse Berfungsi untuk mencari berbagai jenis cursor yang ada.
c.Motion Mengatur kecepatan pergerakan cursor.

3.Pointer options
a.Motion berfungsi untuk Mengatur kecepatan pergerakan cursor.
b.Snap to Untuk membuat cursor akan otomatis berpindah saat ada dialog box.
c.Visibility : display pointer trails Jika dipilih,cursor akan terlihat berbayang, atau lebih dari satu. Hide pointer while typing yaitu untuk penghilangan kursor saat mengetik. Show location of pointer when I press the CTRL key yaitu untuk menunjukan lokasi cursor.

Printer
a.Microsoft XPS document writer menunjukan adanya sambungan printer pada computer.

Sound and audio device
a.Device volume Mengatur volume audio. Mute mengatur agar audio menjadi tak bersuara. Place volume icon in the taskbar mengatur agar icon volume ditampilkan pada taskbar.
b.Speaker setting Untuk mengatur volume speaker.

Ethernet Card / LAN Card
a.Realtek PCle GBE family controller menunjukan spesifikasi LAN card.

RAM
a.Klik kanan pada My Computer, lalu pilih Properties maka akan terlihat spesifikasi RAM.

Hardisk
a.Used space yaitu Informasi tentang jumlah kapasitas hardisk yang telah digunakan.
b.Free space yaitu Informasi tentang jumlah kapasitas hardisk yang belum digunakan.

Processor
a.Klik kanan My Computer, pilih Properties maka spesifikasi RAM akan terlihat.

teori Bronfenbrenner

Teori Ekologis Bronfenbrenner
Perkembangan adalah serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Perkembangan bukan hanya sekedar penambahan beberapa sentimeter pada tinggi badan seseorang atau peningkatan kemampuan seseorang, melainkan suatu proses integrasi dari banyak struktur dan fungsi yang kompleks (Hurlock 1980). Lebih lanjut Hurlock menyatakan bahwa berbagai perubahan yang terjadi dalam perkembangan bertujuan untuk memungkinkan orang atau individu menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana dia hidup. Untuk mencapai tujuan ini, maka individu harus mengaktualisasikan dirinya atau realisasi diri. Salah satu perkembangan yang harus dicapai anak adalah perkembangan sosial.
Perkembangan sosial berkaitan dengan keterampilan sosial yang dimiliki oleh anak. Perkembangan sosial adalah kemampuan anak dalam menjalin hubungan dengan lingkungan sosial. Sebagaimana dikatakan oleh ilmuwan, frase “otak sosial” tidak merujuk pada benjolan otak tertentu. Melainkan istilah tersebut merujuk pada suatu rangkaian sirkuit tertentu yang terorkestrasi ketika seseorang berhubungan dengan orang lain. Meskipun struktur-struktur tertentu otak memainkan peran yang besar dalam menangani relasi dengan orang lain, namun tidak ada satu zona utamapun yang kelihatannya diperuntukkan secara eksklusif bagi kehidupan sosial (Goleman 2007). Riset menyatakan bahwa, manusia membangun kerangka kerja mental yang kompleks dan skema sosial ini menentukan sikap, keyakinan, dan tanggapan seseorang terhadap orang-orang yang dia temui dalam kehidupannya. Peta kognitif ini terdiri dari berbagai stereotipe sosial, sifat pribadi, serta perilaku khas dalam situasi sosial (Armstrong 2005).
Teori dasar yang membahas mengenai perkembangan sosial anak, diantaranya adalah teori ekologi Bronfenbrenner karena cukup komprehensif dalam membahas konteks sosial anak dimana dia berkembang (Teori Bronfenbrenner) dan perubahan utama dalam perkembangan sosial anak yang dibahas dalam Teori Erik Erikson (Santrock, 2003). Teori ekologi Bronfenbrenner berfokus pada konteks sosial dimana anak tinggal dan orang-orang yang mempengaruhi perkembangan anak. Teori Ekologi Bronfenbrenner dibagi menjadi lima sistem lingkungan yang merentang dari interaksi interpersonal hingga ke pengaruh kultur yang lebih luas. Sistem-sistem tersebut adalah mikrosistem, mesosistem, eksositem, makrosistem, dan kronosistem.
Konsep ekologi menyangkut saling ketergantungan antara manusia dengan lingkungannya, baik sumber daya alam maupun sumber daya buatan. Pendekatan ekologi atau ekosistem menyangkut hubungan interindependensi antara manusia dan lingkungan disekitarnya sesuai dengan aturan norma kultural yang dianut. Kaidah ekologi menetapkan adanya ketahanan/ketegaran (resilience) suatu sistem yang dipengaruhi oleh dukungan yang serasi dari seluruh subsistem (Soerjani 2000).
Keluarga merupakan lembaga sosial terkecil yang menyankut hubungan antarpribadi dan hubungan antara manusia dengan lingkungan disekitarnya, maka keluarga tidak dapat berdiri sendiri. Keluarga sangat bergantung dengan lingkungan disekitarnya (baik lingkungan mikro, meso, ekso, dan makro) dan keluarga juga mempengaruhi lingkungan sekitarnya (baik lingkungan mikro, meso, ekso, dan makro).
Bronfenbrener (1981) menyajikan model pandangan dari segi ekologi keluarga dalam mengerti proses sosialisasi anak-anak. Model tersebut menempatkan posisi anak atau keluarga inti pada pusat di dalam model yang secara langsung dapat berinteraksi dengan lingkungan yang berada disekitarnya, yaitu lingkungan mikrosistem (the microsystem) yang merupakan lingkungan terdekat dengan anak berada, meliputi keluarga, sekolah, teman sebaya, dan tetangga. Lingkungan yang lebih luas disebut lingkungan mesosistem (the mesosystem) yang berupa hubungan antara lingkugan mikrosistem satu dengan mikrosistem yang lainnya, misalnya hubungan antara lingkungan keluarga dengan sekolahnya, dan hubungan antara lingkungan lingkungan keluarga dengan teman sebayanya. Lingkungan yang lebih luas lagi disebut dengan lingkungan exosystem yang merupakan lingkungan tempat anak tidak secara langsung mempunyai peranan secara aktif, misalnya lingkungan keluarga besar (extended family) atau lingkungan pemerintah. Akhirnya, lingkungan yang paling luas adalah lingkungan makrosistem (the macrosystem) yang merupakan tingkatan paling luas yang meliputi struktur sosial budaya suatu bangsa secara umum (gambar 1.1).
Jelas sekali disini bahwa pendekatan ekosistem dan keluarga menyangkut hubungan interdipendensi antara manusia yang berada dalam satu unit keluarga inti dengan lingkungan sosial maupun fisik yang ada disekitarnya sesuai dengan aturan norma kultural yang dianut. Menurut Holland et all. (Kilpatrick dan Holland 2003), perspektif ekosistem (sistem ekologi) merupakan pendekatan teoretikal yang dominan dalam melihat perilaku manusia untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang berhubungan dengan lingkungan sosialnya (mulai dari tingkatan mikro ke makro). Pendekatan lain dari Megawangi (1999) menjelaskan bahwa keluarga dijabarkan sebagai suatu sistem yang diartkan sebagai suatu unit soaial dengan keadaan yang menggambarkan individu secara intim terlihat untuk saing berhubungan timbal balik dan saling mempengauhi satu sama lainnnya setiap saat dengan dibatasi oleh aturan-aturan di dalam keluarga. Sistem ekologi juga mengalisis keterkaitan antara keluarga dan lingkungan dalam melihat peubahan budaya, seperti peran ganda ibu, tren perceraian, dan efek perceraian dalam pengasuhan (Harris dan Liebert 1992).

Gambar 1.1 Hubungan gender dan keluarga dengan lingkungannya
(modifikasi model ekologi dari Bronfen brener 1981)

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perkembangan Sosial Anak
Menurut Teori Ekologi Bronfenbrenner yang berfokus pada konteks sosial dimana anak tinggal dan orang-orang yang mempengaruhi perkembangan anak, perkembangan sosial anak sangat ditentukan oleh aktivitas pengasuhan yang diterapkan orang tua dalam lingkungan keluarga (santrock, 2003). Ada beberapa hal yang mempengaruhi perkembangan sosial anak, diantaranya:
1. Usia Anak
Awal masa kanak-kanak seringkali dianggap sebagai usia yang mengundang masalah atau usia sulit. Masalah perilaku lebih sering terjadi di awal masa kanak-kanak dikarenakan anak-anak sedang dalam proses pengembangan kepribadian yang unik dan menuntut kebebasan yang pada umunya kurang berhasil. Perkembangan sosial pada anak usia kanak-kanak awal diawali dengan bermain secara paralel, dimana terlihat anak bermain seolah-olah bermain dengan temannya namun ternyata asyik dengan permainannya sendiri (Hawadi 2001).
Anak menjalani tahapan perkembangan secara beurutan dan setiap tahap selanjutnya lebih majemuk dibandingkan tahap sebelumnya. Tahap-tahap ini berkaitan dengan usia anak. Anak yang lebih tua diharapkan berada pada tahap yang lebih tinggi. Kecepatan anak dalam menjalani dan melalui tahaptahap perkembangan ini tidak sama antara satu anak dengan anak yang lain, tergantung dari intelegensi dan pengaruh sosial.
2. Jenis Kelamin
Tanen dalam Santrock (2003) menyatakan bahwa, anak laki-laki dan perempuan tumbuh dalam dunia berbicara yang berbeda. Anak laki-laki cenderung bermain dalam kelompok besar yang terstruktur secara hirarkies dan memiliki pemimpin yang mengatur apa yang akan mereka perbuat dan bagaimana melakukannya. Sebaliknya, anak perempuan lebih mungkin bermain dalam kelompok kecil atau berdua dan dalam hubungan pertemanan dan kelompok sebaya anak perempuan lebih intim.Sehingga Tanen menyimpulkan bahwa anak perempuan lebih memiliki orientasi hubungan interpersonal dibandingkan anak laki-laki.
3. Usia Orang Tua
Semakin bertambahnya umur seseorang, maka semakin besar pula kemungkinan individu untuk lebih mudah dalam mengasumsikan suatu keadaan sebagai suatu situasi yang penuh tekanan (Afriani 2010).Tekanan yang berupa ketidakstabilan emosi dan ekonomi dapat menentukan kualitas pengasuhan yang diberikan kepada anak. Pengasuhan yang tidak berkualitas akan membentuk anak menjadi anak yang anti sosial (Hastuti 2008).
4. Pendidikan Orang Tua
Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor penting dalam tumbuh kembang anak. Melalui pendidikan yang baik orang tua dapat menerima segala informasi dari luar mengenai aspek-aspek perkembangan anak, sehingga orang tua dapat memberikan stimulus bagi perkembangan anak yang optimal.

5. Status Pekerjaan Orang Tua
Latar belakang pekerjaan orang tua akan mempengruhi status keluarga.
Anak dengan status sosial yang sama atau lebih tinggi dari temannya akan membuat anak bangga kepada ayahnya sebagai pencari nafkah (Hurlock 1980). Keluarga yang dapat memenuhi sandang, pangan, dan papan yang dibutuhkan anak secara mental berarti memenuhi kebutuhan perlindungan sosial dan emosi anak, sehingga aspek sosial dan emosi anak dapat stabil.
6. Pendapatan Orang Tua
Pendapatan orang tua berkaitan dengan status sosial orang tua. Orang tua dengan status sosial ekonomi yang rendah cenderung menginginkan anaknya menyesuaikan diri dengan keinginan masyarakat, menciptakan suasana rumah yang lebih menekankan otoritas orang tua, lebih sering menggunakan hukuman fisik kepada anak, serta lebih suka mengatur anak dan kurang suka mengadakan percakapan dengan anak. Sebaliknya, orang tua dengan status sosial ekonomi tinggi lebih memperhatikan pembentukkan inisiatif anak, jarang menggunakan hukuman fisik kepada anak serta lebih sering membuka percakapan dengan anak.
7. Gaya Pengasuhan
Perkembangan sosial anak dipengaruhi oleh gaya pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua. Gaya pengasuhan yang diterapkan orang tua akan mempengaruhi bagaimana stimulus yang akan diberikan kepada anak. Menurut Rohner (1975), anak yang diasuh dengan gaya pengasuhan penolakan akan lebih tergantung dan sangat posesif dibandingkan anak yang diasuh dengan gaya pengasuhan penerimaan. Sunarti (2004) menyatakan bahwa, anak yang diasuh dengan gaya pengasuhan penolakan berdampak serius terhadap perkembangan anak, yaitu pada perkembangan sosial anak. Anak yang ditolak akan bermasalah dalam berhubungan antarpersonal, yang menyebabkan anak sulit dalam beradaptasi, berkomunikasi, dan berempati.
8. Nilai Budaya
Hurlock (1999) menyatakan bahwa perkembangan dipengaruhi oleh budaya. Karena perkembangan individu dibentuk untuk menyesuaikan diri dengan standar-standar budaya dan segala hal yang ideal, maka perubahanperubahan dalam standar-standar tersebut akan mempengaruhi pola perkembangan. Brooks (2001) menyatakan bahwa budaya menyediakan satu set keyakinan diantaranya :
1. pentingnya orang tua
2. peran anggota keluarga dan komunitas
3. tujuan pengasuhan
4. metode disiplin dan
5. peran anak dalam masyarakat.

Etnisitas mengacu pada keanggotaan individu dalam kelompok berbagi warisan leluhur bersama berdasar atas kebangsaan, bahasa, dan budaya. Pertumbuhan keragaman etnis Negara yang beragam membuat orang tua mengambil berbagai tradisi saat mereka membesarkan anak-anak mereka. Keluarga dari kelompok etnis yang sama mungkin memiliki nilai yang berbeda, tergantung pada lama mereka tinggal di negara tersebut.

Analisis teori
Berdasarkan pandangan dalam tumbuh kembang manusia
Tingkah laku dari seorang individu sesungguhnya dibentuk dari suatu kondisi lingkunganya. Peran lingkungan tersebut berpengaruh langsung terhadap perkembangan individu. Seperti halnya teori yang dikembangkan oleh Bronfenbrenner yang berfokus pada konteks sosial dimana anak tinggal bersama orang-orang yang mempengaruhi perkembangan anak tersebut dan menjadikan anak sebagai inti dari model teorinya. Teori Ekologi Bronfenbrenner dibagi menjadi lima sistem lingkungan yang merentang dari interaksi interpersonal hingga ke pengaruh kultur yang lebih luas. Sistem-sistem tersebut adalah mikrosistem, mesosistem, eksositem, makrosistem, dan kronosistem. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa teori ekologi Bornfenbrenner sesuai dengan teori pendekatan environtalisme yang menyebutkan bahwa suatu perkembangan anak dipengaruhi oleh lingkungan sekitar anak tersebut tinggal.

SIMPULAN
Teori ekologi Bronfenbrenner berfokus pada konteks sosial dimana anak tinggal dan orang-orang yang mempengaruhi perkembangan anak. Teori Ekologi Bronfenbrenner dibagi menjadi lima sistem lingkungan yang merentang dari interaksi interpersonal hingga ke pengaruh kultur yang lebih luas. Sistem-sistem tersebut adalah mikrosistem, mesosistem, eksositem, makrosistem, dan kronosistem. Teori ini sepaham dengan pandangan environtalisme.

DAFTAR PUSTAKA
Puspitawati, Herien. 2012. Gender dan Keluarga : konsep dan realita di Indonesia. Bogor : IPBpress
[internet]. [dikutip tanggal 15 Januari 2013]. [13:40]. Dapat diunduh dari [http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/52347/BAB%20II%20Tinjauan%20Pustaka_%20I11clp.pdf?sequence=5]

Wisata Gua sebagai Alternatif Terapi Anak Autis dan phobia Gelap (Achluophobia)

Wisata merupakan kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatnn perjalanan yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati objek dun daya tarik wisata. Sedangkan ~ ~ i s agtuaa merupakan wisata dengan gua sebagai objek utama. Kondisi gua yang gelap, tenang, dilengkapi dengan keindahan ornamen-ornamen, serta keanekaragaman fauna gua, menawarkan suatu kondisi yang bisa digunakan sebagai alternatif dalam terapi anak autis dun achluophobia (takut gelap). Tujuan penulisan ini adalah memberikan suatu rekonzendasi alternatif terapi untuk anak autis dun achluophobia dengan berwisata ke p a . Analisis wisata gua, autisme dun achluophobia dilakzrkan melalui studi pustaka. Terdapat tiga pendekatan untltk autisme yaitu terapi perilaku, terapi biomedik dun terapi tambahan lain (Wiguna, 2004 dalam Astuti, 2006). Wisata gua bisa menjadi alternatif terapi perilaku. Anak autis mempunyai masalah dalam ha1 berkomunikasi, berelasi (berhubungan) dun berimajinasi. Wisata gua meningkatkan hubungan dun komunikasi yang lebih intensifantara anak autis dun orang tua. Anak autis tidak perlu khawatir perilaku mereka terlihat karena kondisi gua yang gelap. Suasana gua yang sunyi, suara tetesan air dapat menciptakan ketenangan dalam diri anak yang bersangkutan. Perlakuan ini diharapkan dapat meningkatkan kemungkinan anak untuk berespons positif dun mengurangi kemungkinan berespons negatif (atau tidak berespons) terhadap instruksi yang diberikan. Sedangkan terapi untuk anak phobia gelap dilakirkan dengan “terapi desentisisasi” secara herlahap untiik ~nei~gatle(lrn osinya. Anak dikenalkan atail diajuk nzendatangi objek yang ditakutinya (Soesilo~c~u2ti0, 06), dalam ~jisatag ua adalah kegelapan. Kondisifisik gua dapat direkonzendasikan sebagai salah satu alternatif untuk terapi anak autis dun achluophobia.

http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/32907

Hello world!

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!